Selasa, 20 September 2011

KONSEP DASAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN

KONSEP DASAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN
A. Kompetensi Dasar


1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, tujuan dan kawasan teknologi pendidikan.

2. Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip dan perkembangan konsepsi teknologi pendidikan.

3. Mahasiswa dapat menjelaskan pengaruh penerapan teknologi pendidikan terhadap proses pendidikan.



C. Uraian Materi

1. Pengertian dan Tujuan Teknologi Pendidikan

Ada dua pendekatan dalam memberikan pengertian teknologi pendidikan, yaitu:

a. Teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan perangkat keras (hardiware approach)

Menurut pendekatan ini teknologi pendidikan mengandung makna sebagai pemanfaatan atau penggunaan peralatan yang canggih dalam sistem pendidikan. Dalam pengertian seperti ini esensi teknologi pendidikan itu adalah tertuju pada penggunaan peralatan itu sendiri yang biasa disebut dengan media pendidikan, yakni seperangkat alat bantu (audiovisual aids) yang digunakan oleh guru/pendidik dalam rangka berinteraksi dengan peserta didik yang wujud kongkritnya seperti: Radio, TV, Video, film, dan sebagainya.

b. Teknologi pendidikan sebagai, suatu pendekatan perangkat lunak (software approach)

Menurut pendekatan ini teknologi pendidikan merupakan aplikasi prinsip-prinsip ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Prinsir-prinsip ilmiah adalah cara memandang sesuatu secara sistematis, objektif, kritis, dan logis/rasional. Jadi, dengan demikian esensi teknologi pendidikan itu ialah suatu cara yang sistematis, objektif, kritis, dan logis/rasional dalam merancang, melaksanakan, dan menilai keseluruhan proses pendidikan (pembelajaran) untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengertian seperti ini sejalan dengan arti secara bahasa kata teknologi itu sendiri. Menurut Webster Dictionary teknologi berarti "systematic treatment“ atau penanganan sesuatu secara sistematis.

Sejalan dengan pendekatan perangkat lunak ini, AECT (Association for Educational Communication and Technology), mendefinisikan teknologi pendidikan sebagai berikut:

Teknologi pendidikati adalah proses yang kompleks dan terpadu (terintegrasi) yang melibatkan manusia, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.



Menurut definisi di atas, bahwa tujuan TP dikembangkan adalah untuk memecahkan persoalan belajar manusia atau dengan kata lain mengupayakan agar manusia (peserta didik) dapat belajar dengan mudah dan mencapai hasil secara optimal. Pemecahan masalah belajar tersebut terjelma dalam bentuk semua sumber belajar atau sering dikenal dengan komponen pendidikan yang meliputi: pesan, orang/manusia, bahan, peralatan, teknik, dan latar/lingkungan. Pemecahan masalah belajar tersebut ditempuh melalui proses analisis masalah, penentuan cara pemecahan, pelaksanaam, dan evaluasi yang tercermin dalam Fungsi Pengembangan Media dalam bentuk Riset-teori, desain, produksi, evaluasi, seleksi, logistik, dan penyebarluasan/pemanfaatan. Agar semua fungsi ini berjalan dengan baik maka, perlu adanya koordinasi yang kegiatan tercermin dalam Fungsi Pengelolaan Pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan pengelolaan personal. Secara singkat hubungan Sumber belajar, fungsi pengembangan pendidikan, dan fungsi pengelolaan pendidikan dalam konteks teknologi pendidikan dapat ditu.njukkan dalain Model Kawasan Teknologi Pendidikan sebagal berikut:



2. Kawasan Teknologi Pendidikan



































3. Prinsip-Prinsip dan Perkembangan Konsepsi Teknologi Pendidikan

a. Prinsip-Prinsip Teknologi Pendidikan

Dalam upaya pemecahan masalah-masalah belajar, Teknologi Pendidikan menggunakan tiga prinsip dasar, yaitu: 1) Berorientasi pada si-belajar, 2) Menggunakan pendekatan sistem, dam 3) pemanfaatan sumber belajar secara luas dan maksinal.

1) Berorientasi pada si-belajarar (leaner oriented)

Usaha-usaha Teknologi Pendidikan dalam rangka pemecahan masalah-masalah belajar selalu menitikberatkan perhatiannya pada si-belajar. Teknologi Pendidikan memandang si-belajar merupakan sentral kegiatan pendidikan. Si-belajar adalah subjek pendidikan dan bukannya objek pendidikan. Prinsip im menyatakan bahwa dalam setiap proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, si-belajar hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Namun hal ini bukan berarti bahwa guru/pendidik merupakan pihak yang pasif. Keduanya antara guru/pendidik dan si-belajar harus aktif, guru/pendidik harus aktif memberikan kemudahan/fasilitas belajar kepada si-belajar, sedangkan si-belajar aktif belajar dengan berbagai kemudahan atau fasilitas yang disediakan oleh guru/pendidik.

2) Menggunakan pendekatan sistem

Setiap usaha pemecahan masalah yang ditandasi oleh Teknologi Pendidikan, selalu dilandasi dengan penerapan pendekatan sistem. Hal ini berarti masalah-masalah tersebut dipandang sebagai suatu sistem, atau dalam kaitan suatu sistem sehingga penanganan terhadap satu komponen harus mnemperhatikan komponen-komponen lainnya secara integratif.

3) Pemanfaatan sumber belajar secara luas dan maksimal

Dalam Teknologi Pendidikan pemecahan terhadap permasalahan pendidikan, khususnya masalah belajar, terwujud dalam bentuk sumber-sumber belajar (leaming resources) baik sengaja dirancang untuk tujuan-tujuan belajar (by desain) maupun yang tidak dirancang tetapi dimanfaatkan untuk tujuan belajar tersebut( (by utilization).



b. Perkembangan Konsep Teknologi Pendidikan

1) Masa Awal

Menurut sejarah, dunia pendidikan -paling tidak ditinjau dari cara penyajian materi pelajaran- telah mengalami empat tahap revolusi. Revolusi pertama terjadi pada waktu masyarakat memberikan wewenang pendidikan anak-anak mereka kepada orang tertentu hingga timbul "profesi guru". Revolusi ini mengakibatkan pergeseran dari pendidikan "di rumah" oleh orang tua sendiri ke arah pendidikan secara f'ormal di sekolah. Revolusi kedua terjadi dengan dipakainya bahasa tulisan di samping bahasa lisan dalam menyajikan pelajaran di sekolah. Revolusi ketiga terjadi dengan ditemukannya mesin cetak yang pada gilirannya menyebabkan banyaknya buku yang tersedia dan dipakai di sekolah. Dan revolusi keempat terjadi dengan masuknya teknologi canggih berikut produksnya yang menghasilkan alat-alat mekanis, optis, maupun elektronis.

Meskipun revolusi keempat baru berlangsung sekitar 40 tahun yang lalu, namun konsepsi TP dapat dikaji perkembangannya sejak pada revolusi pertama yaitu dengan adanya profesi guru. Artinya bahwa ada unsur-unsur dalam periode pertama tersebut yang dapat ditafsirkan sebagai memberi petunjuk untuk berlangsungnya revolusi yang berikutnya. Di antara yang memberikan kontribusi terhadap konsepsi TP pada masa ini antara lain:

a) Pada sekitar 500 tahun SM kita mengenal kaum Sufi sebagai "penjual ilmu pengetahuan", yaitu yang memberikan pelajaran dengan mendapatkan upah. Menurut Saettler, mereka ini dapat dikatakan sebagai nenek moyang teknologi pembelajaran. Berbagai tingkah laku publisitas mereka lakukan untuk mendapat perhatian, antara lain dengan memakai jubah ungu (yang kemudian berkembang menjadi toga seperti yang kita kenal sekarang), dan ada pula yang memakai mimbar. Kegiatan pembelajaran yang mereka kembangkan ada tiga cara: 1) penyajian kuliah (ceramah) yang dipersiapkan secara teliti terlebih dahulu, 2) penyajian kuliah mengenai sesuaru yang diajukan oleh khalayak, dan 3) debat secara bebas di depan khalayak. Menurut pandangan mereka tentang manusia, bahwa semua orang mempunyai potensi untuk berkembang dan sama-sama mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengatur dunia, tetapi semuanya itu hanya dapat dilakukan melalui pendidikan.

b) Socrates (470-399 SM) terkenal antara lain dengan metode pembelajaran yang kita kenal dengan metode "mencari tahu (inquiry method)". Metode ini dilaksanakan dengan cara tanya jawab, dengan dimulai dari sesuatu yang sudah diketahui oleh anak didiknya.

c) Johann Amos Comenius (1592-1670) memberikan kontribusi pula bagi perkembangan konsepsi teknologi pendidikan. Di antara prinsip-prinsip pendidikan yang diajukan oleh Comenius adalah: a) Isi pelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak didik, b) Sesuatu yang diajarkan haruis mempunyai aplikasi praktis dalam kehidupan dan harus mengandung nilai bagi anak didik, dan c) Bahian ajar disusun secara induktif, mulai dari yang mudah meningkat ke arah yang sulit, dan Commenius menulis serangkalan buku teks dengan ilustrasi dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Karya Commenius tersebut terkenal dengan buku "Orbus Pictus" (Dunia dalam gambar) terbit tahun 1658.

2) Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Konsepsi Teknologi Pendidikan

a) Pembelajaran Visual atau Alat Bantu Visual (1923)

Masa ini mulai tumbuh sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pembelajaran visual adalah setiap gambar, model, benda, atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada anak. Maksud penggunaan alat bantu visual ini adalah: a) memperkenalkan, membentuk, dan memperkaya, serta memperjelas pengertian yang abstrak kepada anak, b) mengembangkan sikap yang diinginkan, dan c) mendorong kegiatan anak lebih lanjut.

Pembelajaran visual ini memperkmalkan tiga konsep dasar: a) Penggunaan bahan-bahan visual dalam pembelajaran dapat menyajikan gagasan yang abstrak sifatnya menjadi lebih kongkrit, b) pentingnya pengklasifikasian jenis-jenis alat bantu visual yang dipergunkan, dan c) perlunnya mengintegrasikan bahan-bahan visual ke dalam kurikulum, sehingga penggunaannya tidak terpisah atau terlepas dari kurikulum yang dipergunakan.

Kelemahan dari konsepsi pengajaran Visual adalah: a) menekankan kepada bahan-bahan visual itu sendiri, artinnya tidak disertai dengan kegiatan yang berhubungan desain, pengembangan,produksi, evaluasi, dan pengelolaan bahan-balian visual tersebut, dan b) bahan visual dipandang sebagai "alat bantu" guru untuk kegiatan mengajar, jadi tidak dipandang sebagai suatu kesatuan bahan pengajaran yang dapat dipakai untuk belajar sendiri.

b) Pembelajaran Audio Visual

Konsepsi pembelajaran Audio Visual ini mulai berkembang kira-kira tahun 1940. Inti dari konsepsi pembelajaran audio visual ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk menyampaikan ide atau gagasan dan pengalaman kepada anak melalui mata dan telinga. Konsepsi dasar yang diperkenalakan oleh pembelajaran audio visual ini sama dengan pembelajaran visual hanya ada unsur tambahan audi (pendengaran).

Perkembangan pembelajaran audio visual ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan di luar bidang pendidikan itu sendiri, seperti perkembangan industri yang cepat sehingga dapat diproduksi peralatan dan bahan dalam jumlah yang besar seperti kamera, proyektor, dan filmnya. Konsepsi pembelajaran audio visual ini juga mengandung kelemahan seperti halnya pembelajaran visual di atas.

c) Pembelajaran sebagai Teori Komunikasi

Perkembangan ini dipengaruhi adanya penerapakan ilmu komunikasi pada proses pembelajaran pada sekilar talitui 1950. Pembelajaran dengan menerapkan konsep komunikasi ini, tidak lagi penekanan diletakkan pada alat atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi sekarang dipusatkan kepada keseluruhan proses komunikasi informasiatau pesan mulai dari sumber (guru maupun bahan) sampai ke penerima/sasaran (si-belajar). Jadi, ciri penting dari konsepsi pembelajaran dengan menerapkan teori komunikasi ini adalah ditinggalkannya suatu penekanan kepada bahan-bahan audio visual sebagai alat bantu mengajar, dan gantinya memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap. Proses koinunikasi yang lengkap itu menunjukkan kepada perhatian terhadap unsur-unsur yang terlibat dalam proses itu dan saling hubungan di antaranya. Jadi melibatkan. lebih banyak daripada sekedar bahan yang dipakai untuk menyajikan bahan yang dipakai untuk menyajikan pesan.

Di antara model proses komunikasi yang dianggap paling berguna untuk mengem bangkan konsep TP adalah Model SMCR Berlo, yakni sebagai berikut:





MODEL RAMUAN KOMUNIKASI


Model ini menunjukkan dua konsep yang sudah disebutkan di atas yaitu: 1) berbubungan dengan keseluruhan proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima, dan 2) menunjukkan adanya unsur-unsur yaug terlibat di dalam proses dan adanya antar hubungan yang dinamis antar unsur-unsur yang terdapat di dalam proses.

Kelemahan dari konsepsi ini masih ada kesan bahwa proses komunikasi ini berjalan linier, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Dalam proses komunikasi pada umumnya terjadi secara dua arah atau adanya umpan balik (respon) dari si penerlina ke penyampai pesan.

d) Penerapan Pendekatan Sistem dan Konsep Pengembangan Pelajaran dalam Kegiatan Pendidikan

Konsesi ini berkembang mulai tahun 1960. Menurut konsepsi ini TP adalah:

1) Proses yang kompleks dan terpadu (terintegrasi) yang melibatkan manusia, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganilis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.

2) Suatu bidang yang terlibat dalam membantu kegiatan belaiar manusia, melalui identifikasi masalah, pengembangan, organisasi, dan. pemanfaatan. berbagai sumber belajar secara sistematik serta melalui pengelolaan atas proses-proses tersebut.



4. Pengaruh Penerapan Teknologi Pendidikan Terhadap Proses Pendidikan

Penerapan Teknologi Pendidikan akan mempunyai pengaruh yang penting bagi proses pendidikan. Pengaruh tersebut akan terasa sekali terhadap tiga hal, yaitu: Pengambilan keputusan pendidikan, pola pembelajaran, dan dimungkinkan lahimya berbagai bentuk altematif lembaga pendidikan.

a. Pengaruh penerapan Teknologi Pendidikan terhadap pengambilan keputusan pendidikan

Menurut pengamatan Heinich (1970) aplikasi Teknologi Pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap pengambilan keputusan berkaitan dengan proses pendidikan. Aplikasi itu membawa dampak pada siapa yang memutuskan tentang isi yang diajarkan, siapa yang merancang sumber belajar dan bagaimana caranya, siapa dan bagaimana memproduksi sumber belajar, siapa dan bagaimana mengevaluasi pembelajaran, siapa dan bagaimana berinteraksi dengan si belajar, serta siapa. yang menilai hasil belajar peserta didik.

1) Penetapan Isi

Teknologi Pendidikan mengalihkan penetapan isi kurikulum pada tingkat perencanaan dan penentuan dari tangan para guru/instruktur secara perorangan atau oleh ahli bidang studi menjadi penetapan oleh tim secara bersama-sama yang terdiri dari ahli bidang studi, para pengembang instruksional, dan produser yang memproduksikan unit-unit pembelajaran tersebut. Dengan ditetapkannya isi kurikulum oleh tim tersebut maka peranan guru atau instruktur akan berubah menjadi memilih dan bukannya menetapkan isi kurikulum tersebut.

2) Rancmgan Pembelajaran

Orang-orang yang melaksanakan kegiatan merancang serta teknik yang dipergunakan akan mengalami perubahan dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam paradigma tradisional "guru kelas saja", kegiatan merancang pembelajaran dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan metode perencanaan pelajaran yang tradisional, di mana buku teks merupakan sumber belajar utama dan kadang-kadang dipergunakan "alat bantu Audiovisual” sebagai pelengkap. Sedangkan pembelajaran bermedia biasanya dilakukan oleh seorang ahli dalam proses pengembangan instruksional, termasuk di dalamnya kegiatan menilai kebutuhan, analisis peserta didik, penyusunan tujuan pembelajaran, penyusunan penilaian, dan sebagainya. Jadi di sini terjadi pergeseran, dari ahli merancang yang dasamya spesial bidang studi ke ahli merancang yang khusus dilatih dalam metode pengembangan instruksional. Proses yang mereka pakai adalah proses pengembangan instruksional yang sistematik, dan bukan sekedar pendekatan intuitif seperti yang kebanyakan dipakai oleh guru/instruktur jaman dulu.

3) Produksi Bahan Pembelajaran

Pembelajaran bermedia akan mengubah pula orang-orang yang melaksanakan kegiatan produksi, teknik maupun kualitas produksi mereka. Sumber belajar yang secara. soderhana diproduksikan oleh gutru/instruktur, akan tersisih oleh unit pembelajaran bermedia yang dikerjakan oleh spesialis produksi berbagai media, seperti: audio, foto, film, televisi, dsb. Mereka ini menggunakan teknik prodaksi dan peralatan yang canggih/piawai. Pendidikan mereka berlainan dengan pendidikan guru/instruktur, yaitu bukan sekedar isi ajaran, melainkan juga mempelajari teknik dan penggunaan peralatan.

4) Evaluasi Pembelajaran

Dalam pembelajaran yang tradisional, evaluasi pembelajaran seringkali merupakan fungsi yang terabaikan. Dalam Teknologi Pendidikan, khsususnya program bermedia, fungsi evaluasi menduduki peranan utama. Evaluasi pembelajaran dilakukan baik pada tahap pengembangan maupun dalam tahap pemanfaatannya, dalam rangka menentukan efektivitas dan mengidentifikasikan bagian-bagian yang memerlukan penyempumaan. Fungsi evaluasi tidak saja dilaksanakan oleh para guru/instruktur, tetapi juga oleh para ahli yang menguasai model-model evaluasi, teknik evaluasi formatif dan sumatif serta penyusunan instrumen evaluasi. Mereka ini adalah orang-orang yang khusus dilatih dalam teknik-teknik evaluasi.

5) Interaksi dengan Si-belajar

Tujuan serta orang yang melaksanakan kegiatan interaksi dengan si-belajar, akan berubah secara radikal dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam pembelajaran yang tradisional, guru/instruktur secara langsung berinteraksi dengan si-belajar. Dalam pembelajaran bermedia, tugas menyajikan informasi khususnya oleh sumber belajar lain yang bukan orang secara langsung. Peranan interaksi yang dilakukan dengan si-belajar, pertama-tama adalah untuk membantu perkembangan emosi dan sosial mereka. Kemungkinan interaksi kedua adalah untuk -tutorial- yaitu memberikan bantuan remedial bagi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar dari media. Peranan guru seperti ini jelas berbeda dengan peranan guru/instruktur kelas.

6) Penilaian Belajar

Secara tradisional, para guru sendirilah yang melakukan penilaian apakah peserta didik mencapai tujuan belajar atau belum dengan mengadakan tes. Tambahan pula tes-tes tersebut seringkali dianggap sebagai bagian terpisah dan berlainan dari pembelajaran. Seringkali pula tes tersebut tidak didasarkan pada tujuan instruksional khusus. Dengan pembelajaran bermedia, teknik mengevaluasi prestasi peserta didik menjadi bagian dari pembelajaran. Tes bukan merupakan tambahan, melainkan bagian integral dari pembelajaran. Acapkali hasil tes menentukan apakah peserta didik memerlukan pembelajaran remedial atau tidak, sebelum peserta didik yang bersangkutan melanjutkan pelajaran yang berikutnya. Dengan demikian pengembangan alat-alat penilaian menjadi bagian dari pengembangan bahan pembelajaran dan dilaksanakan oleh ahli bidang studi dan para pengembang instruksional yang merancang pembelajaran. Secara tradisional, guru merupakan orang yang memeriksa tes, Akan tetapi dalam pembelajaran bermedia, penilaian hasil belajar peserta didik mungkin dikerjakan oleh para juru tulis (untuk tes pilihan ganda), atau peserta didik lain (asisten pengajar), ataupun para penilai (evaluator) yang diberi tugas khusus. M.ereka ini melaksanakan koreksi jawaban tes dengan pedoman kunci jawaban yang disusun oleh perancang tim khusus. Orang-orang yang melakukan tugas penilaian dalam contoh-contoh tersebut tingkat pendidikannya tidak setinggi pendidikan untuk guru.

b. Pengaruh penerapan Teknologi Pendidikan terhadap pola pembelajaran

Berdasarkan definisi Teknologi Pendidikan yang sekarang, dapat diidentifikasikan empat pola dasar pembelajaran yang dapat diorganisasikan.

1) Pola pembelajaran tradisional dalam bentuk tatap muka guru-peserta didik.

Dalam pola ini guru, yang bertindak selaku Komponen Sistem Instruksional, merupakan satu-satunya sumber belajar. Guru memegang kontrol sepenuhnya atas berlangsuugnya pembelajaran. Guru memegang kontrol penuh dalam menetapkan isi serta metode belajar, dan dalam menilai kemajuan belajar anak didik. Pola pembelajaran seperti ini banyak didapati pada zaman dulu. Pola ini menurut Morris dapat digambarkan dalam diagram berikut:




2) Pola pembelajaran guru dengan media.

Yaitu pola pembelajaran di mana dalam kegiatan pembelajarannya guru dibantu dengan alat bantu tertentu (misal: "alat bantu audivisual"). Pola ini masih totap memandang guru sebagai Komponen Sistem Instruksional yang utama, dengan sumber belajar lain yang dipergunakan sebagai tambahan. Dalam pembelajaran ini guru kelas masih memegang kandali hanya saja tidak semutlak pola pertama, karena dia dibantu oleh sumber lain. Dalam pola ini guru aktif menyampaikan isi kurikulum, murid menerima apa yang disampaikan kepadanya. Dalam menyampaikan isi pelajaran guru menggunakan buku teks, papan tulis, peta, alat-alat peraga, alat-alat audio visual, dan sebagainya. Dalam pola ini kalau guru tidak ada, alat-alat tersebut tidak berfungsi, bahkan dalam mempelajari buku teks yang sudah ada padanya, murid menunggu sampai bab-babnya diterangkan guru. Pola ini menurut Morris dapat digambarkan sebagai berikut:



3) Pola pembelajaran di mana kurikulum sampai kepada peserta didik melalui interaksi langsung antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar.

Pada pola ini guru bersama-sama dengan sumber lain menjadi pendorong bagi peserta didik untuk belajar. Tugas guru di sini ialah mengatur, mengarahkan, mendorong, mengawasi, dan memberi pertolongan bila diperlukan supaya anak didik dapat beriteraksi dengan sumber-sumber belajar yang relevan dengan tujuan yang akan dicapai. Pada pola ini anak didik dituntut untuk aktif belajar sendiri, dengan membaca buku pelajaran terprogram, mendengarkan kaset atau radio, melihat TV, film, dan sebagainya. Untuk dapat terlaksananya pola pembelajaran ini harus dipersiapkan program-progrm media yang relevan dengan tujuan yang akan dicapai. Tentu saja peserta didik masih perlu berinteraksi dengan guru untuk membicarakan hal-hal yang penting, memecahkan persoalan yang sulit, menjawab pertanyaan, dansebagainya. Bila perlu guru dapat juga mempertemukan anak didik dengan sumber belajar lain, seperti dokter, ahli teknik, polisi, pejabat pemerintah (Camat, Buputi, dsb.), tokoh agama, dan sebagainya. Guru dapat juga membawa murid ke tempat-tempat tertentu untuk mengobservasi hal-hal yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, seperti ke masjid, pantai, moseum, candi, persawahan, dan sebagainya. Pola ini dapat digambarkan sebagai berikut:







4) Pola pembelajaran yang "bermedia saja"

Dalam pola ini anak didik belajar atas kemauan dan keaktifan sendiri. Bantuan guru hampir tak diperlukan lagi. Pola ini hanya terlaksana kalau faktor-faktor yang ada dalam diri peserta didik (intemal conditions) telah cukup untuk bekal penerimaan pengetahuan baru. (seperti kemampuan Calistung). Pola pembelajaran ini dapat digambarkan sebagai berikut,









Catatan:

Dalam kenyataan tidak terdapat bentuk pola pembelajaran secara ekstrim, berbagai pola itu saling berbaur dalam suatu jangka waktu dan proses pembelajaran tertentu. Kombinasi dari keempat pola di atas dapat digambarkan sebagai berikut.







2 3 4









1 2









1 2 3 4













c. Pengatruh Penerapan Teknologi Pendidikan terhadap Jenis Altematif Lembaga Pendidikan

Telah kita ketahui bahwa kegiatan pembelajaran hampir selalu terjadi dalam lembaga yang disebat sekolah. Penerapan Teknologi Pendidikan akan dapat mempengaruhi struktur dan bentuk lembaga pendidikan, sehingga lembaga pendidikan tersebut tidak hanya berbentuk sekolah saja. Dengan diterapkannya Teknologi Pendidikan, paling tidak ada tiga macam altematif yang tersedia untuk memberikan kemudahan dalam belajar. Masing-masing altematif berbeda terutama ditinjau dari segi formalitas - yaitu sifat wajib dari lembaga bersangkutan, dari tingkat kewenangan para pengelolanya, dan dari macam sumber belajar yang tersedia.

1) Lembaga Pendidikan Formal (Sekolah)

Karakteristik jenis lembaga pendidikan ini adalah: (1) merupakan lembaga pendidikan yang paling formal seperti yang kita kenal sekarang, mulai dari jenjang TK, sampai PT, (2) kehadiran bersifat wajib baik bagi pengelola, guru, peserta didik maupun tenaga kependidikon lainnya, (3) kewenangan pengelolaan ada ditangan para pendidik profesional dan pemerintah, (4) sumber dan pendekatan yang dipakai terbatas.

2) Lembaga Pendidikan Yang lebih Informal

Sistem pendidikan ini misalnya program pendidikan jarak jauh atau belajar dengan media. Salah satu contohnya adalah program Uni.versitas Terbuka. Dilihat dari sisi pengelolan dan pengendaliannya, lembaga pendidikan ini memang mirip altematif pertama, namun dari sisi sifat belajar dari si-belaJjr dan sumber belajar yang dikembangkan lebih bersifat informal

3) Jaringan Belajar (Leaming Network)

Jaringan ini bukan merupakan lembaga ataupun sistem pendidikan, melainkan merupakan sarana kemudahan untuk memperoleh sumber belajar dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu segala sesuatu yang dapat membantu orang untuk belajar. Tujuan, keikutsertaan, serta kewenangan sepenuhnya ada di tangan pribadi si-belajar, ia bebas dalam menentukan apakah jaringan itu akan dimanfaatkannya atau tidak. Bila berbagai kelembagaan pendidikan tersebut dapat digambarkan sebagai suatu kontinum, maka pada satu ujungnya terdapat pendidikan formal, di mana persyaratan ketat, pengelolaan dan kewenangan di tangan pendidik profesional dan pemerintah, dengan macam sumber belajar dan pendekatan yang dipakainya terbatas. Ke arah ujung yang bertentangan, akan makin kurarg formalitasnya, makin longgar otoritasnya, serta makin beragam sumber dan pendekatan yang dipakai. Ke arah ujung ini kita kenal seperti yang disebut sebagai "jaringan belajar”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar